Senin, 03 September 2018

KEMENHAN RUSIA : PARA MILITAN YANG SERANG PALMYRA MENGAKU DILATIH OLEH AS

Filled under:

Para militan yang berusaha menyerang kota Palmyra mengaku bahwa mereka termasuk kelompok “Lions of the East” yang ditempatkan di dekat pangkalan militer AS, Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan.
Kelompok militan “Lions of the East” diplot  untuk melakukan serangan teroris  dan menguasai  Palmyra dalam waktu satu minggu, Pusat Rekonsiliasi Rusia menyatakan.
“Tujuan para militan itu adalah untuk melakukan serangkaian serangan teroris di sekitar kota Palmyra dan untuk memastikan menggerakkan  pasukan utama yang berjumlah sekitar 300 militan untuk merebut kota itu dalam seminggu kedepan,” kata laporan pusat.
Menurut Kemenhan  Rusia, para militant  yang ditangkap oleh pasukan pemerintah Suriah  mengklaim bahwa mereka telah dilatih dan dipersenjatai oleh instruktur Amerika di sebuah kamp dekat pangkalan militer AS di al-Tanf.
Informasi ini keluar menyusul laporan terjadinya bentrokan antara pasukan Suriah dan teroris di tenggara kota Palmyra.
“Pada hari ini  pukul 5:00 waktu setempat , di 36 kilometer  tenggara kota Palmyra, terjadi bentrokan antara pasukan pemerintah Suriah dan sekelompok militan, yang berusaha mendekati kota Palmyra dari pemukiman di-Tanf.
Hasil dari bentrokan itu , dua teroris tewas, dua lainnya ditahan dan sedang diinterogasi , ” Info dari Kemenhan Rusia.
Kemenhan  Rusia juga menekankan bahwa selama  keberadaan pangkalan militer AS di al-Tanf tidak ada laporan tentang adanya operasi AS  terhadap teroris diwilayah itu.
“Para Pengungsi yang tersisa didekat  kamp pengungsi Rukban  sekarang ini dijadikan  sandera, ‘perisai manusia’ bagi para militan,” tambah pernyataan itu.
Koalisi pimpinan AS  menyebut  melakukan operasi militer terhadap kelompok teror Daesh * di Suriah dan Irak; Namun  aktivitas koalisi di Suriah itu tidak pernah mendapat izin dari pemerintah Presiden Bashar Assad ataupun Dewan Keamanan PBB.
Kota kuno Palmyra pernah direbut oleh kelompok teroris ISIS (Daesh)  pada tahun 2015, tetapi setahun kemudian pasukan Suriah  dengan dukungan Rusia  kembali menguasai Palmyra.
ISIS  merebut kembali kota itu pada akhir 2016, sampai akhirnya dibebaskan kembali oleh tentara Suriah, yang didukung oleh Rusia pada Maret 2017.